https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/issue/feedApplicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)2025-12-28T08:56:34+07:00Sekretariat AVoERavoer@ft.unsri.ac.idOpen Journal Systems<p align="justify">Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Masyarakat <strong><em>Applicable Innovation of Engineering and Science Research</em></strong> (<strong>AVoER)</strong> merupakan wadah untuk mendiskusikan hasil-hasil penelitian dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh para akademisi dan praktisi dari berbagai bidang sains, teknologi, dan lingkungan untuk mendukung pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Forum ini merupakan ajang pertemuan komunikasi dan informasi untuk membahas perkembangan ilmu pengetahuan dalam bidang sains, teknologi, dan lingkungan dan penerapannya kepada kehidupan masyarakat. Lebih lanjut, forum ini juga merupakan ajang para akademisi dan praktisi untuk melakukan kajian terhadap kebijakan, perencanaan, pengelolaan pada bidang sains dan teknologi dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan. <a href="https://issn.brin.go.id/" target="_blank" rel="noopener">ISSN (online) : 2987-2480</a> terdaftar tahun 2023.</p>https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3131PENGARUH FLY ASH SEBAGAI MATERIAL PENUTUP TERHADAP LAJU OKSIDASI PIRIT PADA SKENARIO PERLAPISAN DENGAN PENDEKATAN UJI KINETIK DAN PEMODELAN GEOKIMIA2025-12-25T09:52:35+07:00Sri Desdita Komarisridesditaa@gmail.com<p>Kegiatan penambangan batubara merupakan salah satu penyebab terpaparnya sulfur dan mineral sulfida (<em>pyrite)</em>, sehingga terjadi kontak langsung dengan udara bebas yang selanjutnya terjadi pelarutan akibat adanya air dan membentuk Air Asam Tambang (AAT). Proses ini menghasilkan air dengan pH rendah serta kandungan ion Fe dan sulfat tinggi, sehingga berdampak negatif terhadap kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh <em>fly ash</em> (FA) terhadap laju oksidasi pirit pada material <em>Potentially Acid Forming</em> (PAF). Metode yang digunakan adalah kombinasi uji kinetik <em>Free Draining Column Leach Test (FDCLT)</em> dan permodelan geokimia dengan <em>software </em>PHREEQC. Laju oksidasi ditentukan berdasarkan perhitungan mol Fe dan mol SO₄ dalam air lindian. Hasil menunjukkan bahwa penambahan <em>fly ash</em> dapat menurunkan laju oksidasi pirit secara signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan konsentrasi Fe terlarut dan sulfat pada kolom PAF-FA dibanding PAF murni. Analisis rasio Fe-SO₄ juga mendukung bahwa reaksi oksidasi pirit lebih terkontrol pada skenario perlapisan. Dengan demikian, <em>fly ash</em> berpotensi digunakan sebagai material penutup yang efektif untuk pengendalian Air Asam Tambang.</p>2025-12-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3197KONVERSI MINYAK SAWIT, MINYAK JAGUNG DAN MINYAK BIJI BUNGA MATAHARI SEBAGAI ALTERNATIF PLASTICIZER MELALUI PROSES DEKARBOKSILASI2025-12-25T13:38:34+07:00budi santosobudisantosokimia@gmail.comPutri Agustryaniputri.agustryani@rmg.itera.ac.idaprilena bondanbenaprio@gmail.comRachmawati Aprianirachmawati@itsb.ac.id<p>Plasticizer berupa minyak mineral sebagian besar dihasilkan dari proses pengolahan berbasis minyak bumi yang terdiri dari minyak parafinik, naftenik, dan aromatik. Minyak nabati berpotensi menjadi sumber alternatif bahan baku plasticizer berbasis biologi, dengan cara dimodifikasi secara kimia untuk mendapatkan hidrokarbon yang setara dengan minyak bumi, salah satunya dengan dekarboksilasi. Penelitian ini menggunakan minyak nabati yang terdiri dari minyak sawit, minyak jagung, dan minyak biji bunga matahari. Proses dekarboksilasi dilakukan secara batch dengan kondisi terbuka menggunakan katalis heterogen jenis TiO<sub>2</sub> <sub>, </sub>dengan suhu reaksi 250° °C, 300 °°C, dan 350 °°C. Parameter uji untuk mengamati reaksi dekarboksilasi adalah sifat fisis dan kandungan kimia hidrokarbon yang dihasilkan. Densitas terkecil diperoleh dari minyak bunga matahari pada suhu 350° °C yaitu sebesar 0,9262 g/mL. Viskositas tertinggi diperoleh dari minyak sawit pada suhu 350ºC yaitu sebesar 137,8377 cSt. Sementara viskositas terkecil diperoleh dari minyak bunga matahari pada suhu 320 °°C yaitu sebesar 43,3433 cSt. Persentase konversi minyak tertinggi yang diperoleh dalam penelitian ini adalah 95,5803% dari minyak sawit pada suhu 350 °°C, sedangkan konversi terendah adalah 86,1483% dari minyak bunga matahari pada suhu 250 °°C. Rendemen tertinggi sebesar 93,6552% diperoleh dari minyak sawit pada suhu 250° °C. Analisis GC-MS minyak bunga matahari pada suhu 300°C merupakan yang terbaik dari semua sampel, ditunjukkan dari fraksi C12C24 yang merupakan gugus olefin, dan fraksi C15-C24 yang cenderung merupakan gugus parafin. Reaksi dekarboksilasi tidak menghasilkan fraksi ringan dan memimpin proses fraktur hidrokarbon. Dengan demikian, minyak sayur ditemukan cocok untuk digunakan sebagai alternatif plasticizer berbasis bio sebagai pengganti plasticizer berbasis minyak bumi.</p>2025-12-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3124PENENTUAN BENTUKLAHAN BERDASARKAN ASPEK GEOMORFOLOGI DAERAH BATU AMPAR DAN SEKITARNYA, KABUPATEN BENGKULU SELATAN, PROVINSI BENGKULU2025-12-25T09:52:36+07:00Yisha Ayu Y. Sinagayishaayuy06@gmail.comZaki Nurul Zaidzakinurulzaid@gmail.com<p class="AvoerAbstrak"><span lang="IN">Secara administratif daerah penelitian berada di Desa Batu Ampar, Kecamatan Kedurang, Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu termasuk dalam Cekungan Bengkulu atau di kategori terletak pada Cekungan Depan Busur (<em>Fore Arc Basin</em>) pada zonasi setting tektoniknya. Berdasarkan kenampakan topografi dan morfologinya daerah Batu Ampar memiliki bentuk lahan yang bervariasi dikarenakan indikasi faktor geomorfik dan kondisi geologi yang mempengaruhinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk lahan berdasarkan aspek geomorfologi dan untuk mengetahui karakter dan klasifikasi morfologi yang berkembang, baik yang terbentuk oleh proses endogen seperti tektonik dan vulkanisme, maupun proses eksogen seperti erosi, pelapukan, dan sedimentasi. Penelitian dilakukan dengan pendekatan analisis morfometri, morfografi, dan morfogenetik untuk mengidentifikasi tipe bentukan relief dan distribusi litologi penyusun pada setiap satuan geomorfologi. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah studi terbagi menjadi empat jenis bentuklahan utama, yaitu fluvial, denudasional, karst, dan struktural. Bentuklahan fluvial meliputi satuan <em>Channel Irregular Meander</em> (CIM), <em>Channel Bar</em> (CB), dan Dataran Banjir (DB) yang terbentuk akibat proses sedimentasi dan dinamika aliran sungai. Bentuklahan denudasional terdiri atas Perbukitan Rendah Denudasional (PRD) dan Perbukitan Denudasional (PD), sedangkan bentuklahan karst diwakili oleh Perbukitan Karst (PK) hasil pelapukan dan erosi batuan karbonat jangka panjang. Adapun bentuklahan struktural ditandai oleh Perbukitan Struktural (PS) yang terbentuk karena aktivitas tektonik berupa pelipatan dan pensesaran. Seluruh hasil klasifikasi tersebut mengindikasikan bahwa evolusi geomorfologi di wilayah Batu Ampar dipengaruhi secara dominan oleh kondisi geologi regional, aktivitas tektonik, serta proses eksogen yang terjadi secara terus-menerus. </span></p>2025-12-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3036GEOLOGI DAERAH KEDUNGPOH DAN SEKITARNYA, KABUPATEN GUNUNGKIDUL, PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA2025-12-25T09:52:36+07:00Suci Febria Lestaririsasuci0203@gmail.comHarnaniharnani@ft.unsri.ac.id<p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Pemetaan geologi di daerah Kedungpoh dan sekitarnya, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik geologi yang meliputi geomorfologi, stratigrafi, struktur geologi, serta sejarah geologi pembentukannya. Metode yang digunakan meliputi pemetaan geologi permukaan, pengamatan lapangan, pengukuran struktur, pengambilan sampel batuan, serta analisis laboratorium petrografi dan paleontologi. Berdasarkan hasil penelitian, daerah ini dibagi menjadi tujuh satuan geomorfik yang terdiri dari bentuk lahan denudasional, struktural, fluvial, dan vulkanik. Urutan stratigrafi daerah penelitian tersusun atas Formasi Kebobutak (Oligosen Akhir–Miosen Awal), Formasi Semilir (Miosen Awal), Formasi Nglanggran (Miosen Awal), Formasi Sambipitu (Miosen Awal), Formasi Oyo (Miosen Tengah–Akhir), dan Formasi Wonosari (Miosen Tengah–Akhir). Struktur geologi yang berkembang berupa Sesar Pilangrejo dan Sesar Pengkol dengan arah tegasan utama barat–timur yang terbentuk pada kala Plio–Pleistosen akibat aktivitas tektonik kompresional. Secara umum, sejarah geologi menunjukkan proses sedimentasi berkesinambungan dari lingkungan laut dalam hingga laut dangkal yang kemudian diikuti oleh pengangkatan dan deformasi tektonik.</span></span></p>2025-12-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3029IDENTIFIKASI PERMASALAHAN, POTENSI DAN STRATEGI KORIDOR JALAN JENDRAL SUDIRMAN DI KOTA PALEMBANG BERDASARKAN 8 ELEMEN URBAN DESIGN2025-12-25T09:52:37+07:00Husnul Masyitohhusnulmasyitoh@unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Penelitian ini membahas identifikasi permasalahan, potensi, dan strategi pengembangan koridor Jalan Jenderal Sudirman Kota Palembang berdasarkan delapan elemen perancangan kota (urban design) menurut Hamid Shirvani (1985), yaitu tata guna lahan, bentuk dan massa bangunan, sirkulasi dan parkir, ruang terbuka, area pedestrian, signage, pendukung kegiatan, serta konservasi. Metode analisis dilakukan dengan pengamatan kondisi eksisting kawasan dan interpretasi teori desain kota terhadap fungsi ruang publik, aktivitas masyarakat, dan elemen fisik kawasan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa koridor Jalan Jenderal Sudirman merupakan kawasan komersial utama yang padat aktivitas, didominasi oleh bangunan ruko dan fasilitas publik seperti hotel, kantor, pasar, dan tempat ibadah. Pedestrian Sudirman memiliki potensi tinggi sebagai ruang interaksi publik, dengan keberadaan pepohonan, kursi taman, serta kegiatan budaya masyarakat. Namun, ditemukan pula permasalahan seperti ketidakteraturan parkir, ketidakselarasan signage toko, dan keterbatasan ruang parkir yang mengganggu fungsi pedestrian. Strategi pengembangan diarahkan pada penataan ulang fungsi bangunan komersial, penyediaan kantong parkir tambahan, serta peningkatan keseragaman visual dan fungsi ruang publik agar kawasan lebih tertata, nyaman, dan mendukung identitas Kota Palembang sebagai kota heritage.</p> <p>Kata Kunci: Urban Design, Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Pedestrian, Ruang Publik</p> <p><em><strong>ABSTRACT: </strong>This study identifies the problems, potentials, and development strategies of the st. Jenderal Sudirman corridor in Palembang City is based on the eight elements of urban design proposed by Hamid Shirvani (1985), which include land use, building form and massing, circulation and parking, open space, pedestrian areas, signage, activity support, and conservation. The analysis was conducted through direct observation of the existing conditions and theoretical interpretation of urban design principles related to public space functions, community activities, and the physical characteristics of the corridor. The findings reveal that Jalan Jenderal Sudirman functions as a major commercial corridor with dense activities, dominated by shop houses and public facilities such as hotels, offices, markets, and mosques. The Sudirman Pedestrian area has high potential as a public interaction space, enhanced by greenery, benches, and various cultural events. However, several issues were identified, including irregular parking practices, uncoordinated commercial signage, and insufficient parking spaces that interfere with pedestrian comfort. Development strategies focus on reorganizing commercial activities, providing additional parking facilities, and improving visual coherence and the functionality of public spaces to create a more organized, comfortable, and culturally distinctive urban corridor that supports Palembang’s identity as a heritage city.</em></p> <p><em>Keywords: Urban Design, Jalan Jenderal Sudirman, Palembang, Pedestrian, Public Space</em></p>2025-12-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3087ANALISIS SPASIAL TINGKAT ANCAMAN BANJIR DI KECAMATAN PEDAMARAN, KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR MENGGUNAKAN METODE OVERLAY BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS 2025-12-25T09:52:38+07:00Lulianalulianaukan@unsri.ac.idBochoriBochori@ft.unsri.ac.id<p class="AvoerAbstrak">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat ancaman banjir di Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir, dengan memanfaatkan pendekatan spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan metode <em>overlay.</em> Analisis dilakukan terhadap enam parameter fisik utama, yaitu curah hujan, penggunaan lahan, kemiringan lereng, elevasi, kerapatan sungai, dan jenis tanah. Setiap parameter diberi bobot dan skor sesuai tingkat pengaruhnya terhadap potensi banjir untuk menghasilkan peta sebaran ancaman banjir secara spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 8% wilayah Kecamatan Pedamaran termasuk dalam kategori ancaman banjir tinggi, 41% kategori sedang, dan 52% kategori rendah. Wilayah dengan ancaman tinggi umumnya berada pada daerah dataran rendah dengan penggunaan lahan terbangun yang padat serta kerapatan sungai tinggi. Temuan ini diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan mitigasi bencana dan perencanaan tata ruang berbasis risiko guna meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap potensi banjir di masa mendatang.</p>2025-12-24T18:42:13+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3118IDENTIFIKASI LITOLOGI BERDASARKAN GAMMA RAY DAN COREBOX PADA SUMUR BOR TLM_29, PT. BUKIT ASAM TBK2025-12-25T09:52:38+07:00Ridho Rizky Amandaridho.ra29@gmail.com<p><strong>ABSTRAK: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi litologi bawah permukaan Sumur Bor TLM_29 di PT Bukit Asam, Sumatera Selatan, dengan mengintegrasikan data Log Gamma Ray dan observasi langsung dari batuan inti. PT Bukit Asam secara rutin melakukan kegiatan eksplorasi menggunakan metode pemboran full coring yang memungkinkan pengambilan semua batuan bawah permukaan, memberikan data litologi yang paling akurat. Meskipun demikian, data Log Gamma Ray berperan sebagai instrumen utama untuk interpretasi litologi secara kontinu. Nilai Gamma Ray pada Sumur Bor TLM_29 bervariasi dari 0 hingga 82 API. Berdasarkan nilai rujukan, batubara dan batuan reservoir seperti batupasir/batulanau diidentifikasi memiliki nilai Gamma Ray rendah, sementara batulempung menunjukkan nilai Gamma Ray yang tinggi karena kandungan radioaktif alaminya. Hasil korelasi menunjukkan bahwa sumur ini didominasi oleh batulempung. Terdapat juga lapisan batulanau sebagai perselingan, dan ditemukan beberapa lapisan batubara, yang terkadang memiliki sisipan batupasir. Kombinasi data Gamma Ray dan Corebox ini memberikan identifikasi litologi yang akurat, serta membantu penentuan ketebalan dan kandungan batuan di sekitar Sumur Bor TLM_29.</p> <p><strong>ABSTRACT: </strong>This study aims to identify the subsurface lithology of Borehole TLM_29 at PT Bukit Asam, South Sumatra, by integrating Log Gamma Ray data and direct observation from rock core samples. PT Bukit Asam regularly conducts exploration activities using the full coring method, which allows for the recovery of all subsurface rocks, providing the most accurate lithological data. Nevertheless, the Gamma Ray Log serves as the primary instrument for continuous lithological interpretation in the borehole. The Gamma Ray values in Borehole TLM_29 range from 0 to 82 API. Based on the reference values, coal and reservoir rocks like sandstone/siltstone are identified as having low Gamma Ray values, while claystone exhibits high Gamma Ray values due to its natural radioactive content. The correlation results show that the borehole is dominated by claystone, which is indicated by high gamma ray values. Siltstone layers are present as interbeds. Several coal seams are also found, sometimes interbedded with sandstone. The combination of Gamma Ray and Corebox data provides accurate identification of subsurface lithology , helping to determine the thickness and content of the rock layers around Borehole TLM_29.</p> <p> </p>2025-12-24T18:43:55+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3112SISTEM MONITORING FREKUENSI BERBASIS ALGORITMA FAST FOURIER TRANSFORM DAN POWER SPECTRAL DENSITY2025-12-25T09:52:38+07:00Sendita Yolandia Anugrahyolandiaanugrah@gmail.comWildan Athif Mutaqienmuttaqien.wildan12@gmail.comWildan Athif Mutaqienmuttaqien.wildan12@gmail.comFery Hasanyolandiaanugrah@gmail.comMelia sariyolandiaanugrah@gmail.comIwan Pahendra Anto Saputrayolandiaanugrah@gmail.comAbdul Harris Dalimuntheyolandiaanugrah@gmail.comPuspa Kurniasariyolandiaanugrah@gmail.comDesi Windisariyolandiaanugrah@gmail.comRoby Prasetyoyolandiaanugrah@gmail.com<p>Sistem pengolahan audio sering mengalami gangguan berupa tumpang tindih frekeuensi yang menurunkan kejerniahan suara, maka dari itu perlu adanya pemantauan frekuensis sebagai sarana analisis, sementara metode monitoring yang tersedia sering kali hanya terbatas pada aspek audio tanpa memberikan analisis kuantitatif terkait spectrum dan distribusi daya. Untuk menjawab permasalahan tesebut, penelitian ini berfokus pada rancang bangaun sistem monitoring melalui pengamatan frekuensi menggunakan algoritma Fast Fourier Transform dan Power Spectral Density yang mampu menampilkan visualisasi spectrum frekuensi sekaligus etimasi distribusi daya sinyal. Pengembangan utama dari penelitian ini adalah integrasi perangkat keras dan perangkat lunak yang sederhana namun efisien, diman sumber sinyal frekuensi diatur melalui Generator Frekuensi, kemudian disalurkan ke rangkaian Band Pass Filter untuk menyaring frekuensi tertentu, dan diteruskan ke modul ESP32 sebagai converter analog ke digital. Data digital hasil konversi diproses menggunakan algoritma FFT dan PSD melalui pemrograman Javascript, kemudian dikirimkan ke website berbasis Lavarel untuk divisualisasikan dalam bentuk grafik interaktif. Cara kerja sistem secara menyeluruh mmeiputi input frekuensi melalui jackpod, penyaringan dengan BPF,, konversi ke data digital oleh ESP32, pemrosesan analisis dengan FFT dan PSD, hingga visualisasi pada website. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem berhasi dijalankan sesuai harapan, dengan kinerja stabil dalam menampilkan spektru frekuensi dan distribusi daya sinyal frekuensi.</p>2025-12-24T18:44:33+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2941Pengaruh Waktu Rendam dan Massa Karbon Aktif Kulit Buah Maja pada Pemurnian Minyak Jelantah2025-12-25T09:52:39+07:00Asyeni Miftahul Jannahasyeni@ft.unsri.ac.idRien Hairunnisahrhnisah1501@gmail.comLutfia Syifa Auliarhnisah1501@gmail.comNurul Azizahrhnisah1501@gmail.com<p>Used cooking oil, commonly known as waste frying oil, is categorized as household waste that can cause adverse effects on human health and the environment when reused without proper purification. This research was conducted to investigate the effect of soaking time and the mass of activated carbon derived from Maja fruit peel on the improvement of waste cooking oil quality through the adsorption process. Activated carbon was prepared from Maja fruit peel and was applied in the purification of waste cooking oil with variations in soaking duration and adsorbent mass. The oil quality parameters that were analyzed included volatile matter, moisture content, ash content, and fixed carbon of the produced adsorbent, as well as the free fatty acid (FFA) content in the purified oil. The optimum condition was obtained at a soaking time of 24 hours using 20 grams of activated carbon, resulting in a 76.19% reduction of FFA level. The findings indicated that Maja fruit peel can be utilized as an efficient and environmentally friendly source of activated carbon for waste cooking oil purification. Moreover, the use of this local biomass was considered to support the development of sustainable and energy-efficient purification technology for reused oil.</p>2025-12-24T20:38:51+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3146Analisis Lingkungan Pengendapan Batuan Karbonat di Kecamatan Lengkiti dan Sekitarnya, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan2025-12-25T13:43:55+07:00Akram Nugrahaakramnugraha4@gmail.comHarnani Harnaniharnani@ft.unsri.ac.id<p>Kecamatan Lengkiti dan sekitarnya terdiri dari dua formasi karbonatan seperti Formasi Baturaja berumur Miosen Awal dan Formasi Gumai berumur Miosen Awal-Miosen Tengah. Litologi Formasi Baturaja terdapat Batugamping sedangkan Formasi Gumai terdiri Batupasir. Metode yang digunakan dalam penelitian berupa pengambilan data di lapangan secara langsung, analisis petrologi pada sampel batuan, analisis paleontologi untuk mengetahui jenis fosil serta analisis lingkungan pengendapan batuan karbonat pada daerah penelitian. Cakupan penelitian meliputi tentang geologi daerah penelitian berupa peta lintasan, stratigrafi daerah penelitian, dan peta geologi. Pada analisis petrologi didapatkan nama <em>Sparse Biomicrite</em>, sedangkan untuk analisis paleontologi didapatkan fosil planktonik dengan umur <em>Middle Miocene-Late Miocene</em> (N14-N15) dan fosil benthonik dengan lingkungan batimetri Neritik Tepi-Neritik Tengah. Terakhir lingkungan pengendapan pada Formasi Baturaja berada pada <em>Shallow Marine</em> sedangkan Formasi Gumai di <em>Delta Front</em>.</p>2026-01-20T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2963Kajian Kesiapan Geometrik dan Implikasi Kapasitas Terhadap Penetapan Zona Parkir On-Street di Kota Bandung2025-12-25T09:52:40+07:00Siti Raudhatul Fadilahsrfadilah@unsri.ac.idKiagus Muhammad Aminuddinkmaminuddin@ft.unsri.ac.id<p>Parkir tepi jalan (<em>on-street parking</em>) merupakan elemen penting dalam sistem transportasi perkotaan, namun penerapannya sering menimbulkan kompromi antara aksesibilitas dan kapasitas lalu lintas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesiapan geometrik ruas jalan di Kota Bandung untuk penerapan parkir <em>on-street</em> melalui pendekatan deskriptif kuantitatif yang meliputi analisis geometrik, perhitungan kapasitas jalan, dan pemodelan regresi logistik biner. Audit dilakukan terhadap 100 ruas jalan dengan mempertimbangkan lebar jalur, sudut parkir, dan jumlah sisi parkir. Hasil menunjukkan bahwa hanya 30% ruas memenuhi kriteria geometrik, dengan kapasitas efektif rata-rata menurun sekitar sepertiga dari kapasitas dasar. Berdasarkan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI), penurunan kapasitas berkisar antara 28–47%, di mana konfigurasi parkir bersudut ≥45° memberikan dampak paling signifikan terhadap degradasi arus. Analisis regresi logistik mengonfirmasi bahwa lebar jalur berpengaruh positif terhadap peluang kelayakan, sedangkan sudut parkir yang lebih besar dan penerapan dua sisi secara signifikan menurunkan probabilitas tersebut. Implikasi kebijakan menunjukkan bahwa parkir paralel satu sisi masih dapat diterapkan pada ruas selebar ≥ 9 m, sementara parkir bersudut ≥ 45° hanya layak pada ruas ≥ 12 m dengan volume lalu lintas rendah. Studi ini menegaskan pentingnya audit geometrik berbasis data sebagai prasyarat dalam penetapan zona parkir <em>on-street</em> agar kebijakan tidak menurunkan kinerja jaringan jalan perkotaan.</p>2025-12-24T20:47:46+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3158GEOLOGI DAERAH ULAK LEBAR, KABUPATEN LAHAT, SUMATERA SELATAN2025-12-25T09:52:40+07:00Peyyi Pranikapeyyipranika@gmail.comHarnani Harnaniharnani@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK:</strong> Penelitian yang dilakukan di Daerah Ulak Lebar dan sekitarnya, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Secara geologi, daerah penelitian terdiri atas Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim yang merupakan pembawa batubara di Cekungan Sumatera Selatan. Tujuan penelitian Adalah memahami kondisi geologi daerah melalui geomofologi, stratigrafi, dan struktur geologi, serta karakteristik petrografi batuan. Metode penelitian yang dilakukan adalah studi literatur, observasi lapangan dan uji laboratorium, yang kemudian akan direkonstruksi ke dalam sejarah geologi dengan metode seperti metode observasi lapangan, analisis laboratorium, dan uji laboratorium dan penyusunan laporan. Berdasarkan aspek geomorfologi, wilaya ini terbagi menjadi satuan <em>Channel Irregular Meander</em> (CIM), Perbukitan Rendah Denudasional (PRD), Perbukitan Denudasional (PD). analisis petrografi dilakukan untuk mengidentifikasi sifat megaskopis dan mikroskopis batuan, serta menafsirkan proses geologi yang terjadi. Studi ini juga membantu memahami perubahan lingkungan pengendapan melalui analisis sumber material pembentukan batuan sedimen di Sungai lematang desa ulak lebar.</p>2025-12-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2964ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI PENAMBANGAN BATU GAMPING DI TAMBANG 3 PT. SEMEN BATURAJA (Persero) Tbk.2025-12-25T09:52:40+07:00Qurratul Ayunqurratul.121014@gmail.comBochoriBochori@ft.unsri.ac.id<p>Studi kelayakan investasi proyek penambangan batu gamping di wilayah Rencana Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUP OP) Tambang 3 milik PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, yang terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan. Batu gamping atau batu kapur merupakan batuan sedimen yang tersusun terutama oleh mineral kalsit (CaCO₃), dolomit [CaMg(CO₃)₂], dan aragonit (CaCO₃). Pembentukannya dapat terjadi melalui proses organik, mekanik, maupun kimia. Sebagai salah satu komponen utama dalam industri semen, sehingga ketersediaannya menjadi faktor penting dalam menjamin kontinuitas produksi. Penelitian ini menggunakan metode Discounted Cash Flow (DCF) dengan indikator penilaian finansial berupa Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PBP), serta analisis sensitivitas untuk mengukur dampak perubahan biaya produksi dan harga jual terhadap kelayakan suatu proyek. Hasil analisis menunjukkan bahwa proyek ini layak secara ekonomis dengan nilai NPV sebesar Rp 66.677.183.980, IRR sebesar 15,87%, dan Payback Period selama 8 tahun 5 bulan. Namun, sensitivitas terhadap kenaikan biaya produksi atau penurunan harga jual sangat tinggi, perubahan sebesar 5% dapat menyebabkan nilai NPV menjadi negatif. Sehingga dapat di tegaskan bahwa pentingnya pengendalian biaya dan strategi mitigasi risiko dalam pelaksanaan proyek. Oleh karena itu, pengambilan keputusan investasi harus mempertimbangkan dinamika pasar serta ketahanan finansial proyek terhadap berbagai skenario.</p>2025-12-24T20:51:05+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2987EVALUASI OPTIMALISASI BATUBARA SIDEWALL PIT X BERDASARKAN KAJIAN GEOTEKNIK METODE LIMIT EQUILIBRIUM 2025-12-25T09:52:41+07:00Muhammad Zelandimuhammadzelandi@unja.ac.idHeriyanto Panggabeanheriyanto.panggabean@suthraresources.comIndraindra@suthraresources.com<p>Optimalization in coal mining needs to consider geotechnical aspect, especially of slope stability analysis, for maximize the result and preventing the slope from landslide due to the activities. This research were done by collecting lithological samples at Pit X’s Sidewall surrounding area, thus conduct geotechnical test to collect physical and mechanical properties data of the Sidewall Samples, then slope stability analysis with limit equilibrium method simulation in 4 assumptions: initial condition, design-based-cut condition, cut of slpe with slope angle 70<sup>0</sup> condition, and single slope 20 m height condition. Based on the analysis, the factor of safety that occurs shows the design-based-cut condition area the most safety (FoS = 1,111) with mineable coal about 9427 MT (Metric Tonnes). Then the simulation has been held for the optimalization activity which separate into 2 phase. First phase are overburden removal about 10.475 BCM (Bank Cubic Meter) and 9.427 MT coal getting while observe deformation of the slope using monitoring prism. The second phase held by dispose overburden from another front about 10.475 BCM to strenghten the sidewall against landslide potential.</p>2025-12-24T20:54:51+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3168PENDAMPINGAN PROSES PEMBUATAN DAN PEMASARAN BATIK CAP PADA KELOMPOK PEREMPUAN BATIK GEOPARK DI DESA AIR BATU, KECAMATAN RENAH PEMBARAP, KABUPATEN MERANGIN2025-12-25T09:52:41+07:00Anggi Deliana Siregaranggidelianas@unja.ac.idD. M. Magdalena Ritongamagdalenaritonga@unja.ac.idHari Wiki Utamaanggidelianas@unja.ac.idSarwo Sucitra Aminanggidelianas@unja.ac.idJuventaanggidelianas@unja.ac.idDinda Novia Ramadaninoviadindanov@gmail.com<p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Kelompok Perempuan Batik Geopark di Desa Air Batu, Kabupaten Merangin, memiliki potensi besar dalam pengembangan batik cap dengan motif berbasis kekayaan Geopark Merangin. Namun, kelompok ini menghadapi dua kendala utama yaitu aspek produksi belum optimalnya efisiensi dan konsistensi kualitas dalam proses pencapan dan pewarnaan dan aspek pemasaran keterbatasan pengetahuan dan keterampilan dalam memanfaatkan platform digital sehingga jangkauan dasar produk masih terbatas. Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan teknis kelompok dalam standarisasi dan efisiensi produksi batik, memfasilitasi pengembangan motif inovatif yang terinsipirasi dari Geopark Merangin, dan memberdayakan kelompok dalam menerapkan strategi pemasaran digital untuk memperluas akses pasar produk mereka. Metode yang diterapkan adalah pendampingan pastisipatif yang dikombinasikan dengan metode pelatihan dan pemaksaan. Hasil pengabdiian menunjukkan adanya peningkatan kapabilitas yang nyata pada kelompok mitra. Kelompok mampu menyusun prototipe topi dengan motif yang beragam dan berhasil mencapai konsistensi warna yang lebih baik. Dari sisi pemasaran, kelompok telah meluncrkan akun media sosial resmi brand batik mereka. Program ini berhasil menciptakan fondasi yang kuat bagi kelompok perempuan batik geopark air batu untuk bertransformasi menjadi unit usaha yang lebih produktif dan kompetitif di era digital.</span></span></p>2025-12-24T20:55:26+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2975PERBANDINGAN ISOTROPIC RECEIVE LEVEL DAN FREE SPACE LOSS PADA SATELIT GEOSTASIONER BERDASARKAN VARIASI JARAK DAN RENTANG PITA FREKUENSI KOMUNIKASI SATELIT2025-12-25T09:52:41+07:00Fery Hasanferyhasan0603@gmail.comPuspa Kurniasaripuspakurniasari@ft.unsri.ac.idIwan Pahendra Anto Saputrapuspakurniasari@ft.unsri.ac.idAbdul Haris Dalimunthepuspakurniasari@ft.unsri.ac.idMelia Saripuspakurniasari@ft.unsri.ac.id<p>Perhitungan rugi-rugi jalur propagasi sinyal pada sistem komunikasi satelit sangat penting dalam menganalisis performa transmisi sinyal dari satelit ke stasiun bumi. Rugi jalur propagasi berdampak pada kuat sinyal terima di stasiun bumi. Penelitian ini membahas perbandingan <em>Isotropic Receive Level </em>dan <em>Free Space Loss</em> pada kerja satelit geostasioner dengan variasi jarak 36000 hingga 41000 km serta rentang pita frekuensi <em>L-band</em> hingga <em>Ka-band</em>. Metode penelitian menggunakan model propagasi <em>free space path loss</em> berbasis parameter jarak dan frekuensi dengan nilai <em>Effective Isotropic Radiated Power</em> sebesar +40 dBW. Hasil kalkulasi menunjukkan peningkatan jarak segmen bumi menyebabkan kenaikan <em>Free Space Loss</em> dari 197,39 dB menjadi 198,52 dB. Namun, peningkatan frekuensi memberi pengaruh signifikan terhadap redaman. Pada pita L di 1 GHz diperoleh <em>Free Space Loss</em> 183,57 dB dan <em>Isotropic Receive Level</em> −143,57 dBW sedangkan pada pita Ka di 26 GHz diperoleh <em>Free Space Loss</em> meningkat menjadi 211,87 dB dan <em>Isotropic Receive Level</em> menurun menjadi −171,87 dBW. Berdasarkan hasil tersebut, frekuensi memiliki pengaruh lebih besar terhadap penurunan daya sinyal dibanding jarak segmen bumi. Studi ini memberikan deskripsi kuantitatif sensitivitas jarak orbit dan frekuensi kerja terhadap kualitas sinyal sehingga dapat dijadikan acuan dalam perencanaan sistem komunikasi satelit.</p>2025-12-24T20:57:51+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3171GEOLOGI DAERAH SELEMAN DAN SEKITARNYA, KECAMATAN PENGANDONAN, KABUPATEN OGAN KOMERING ULU, PROVINSI SUMATERA SELATAN2025-12-25T09:52:42+07:00Rayhan Khairunnan Abiyyurayhanabiyyu8@gmail.comHarnani Harnaniharnani@ft.unsri.ac.id<p>Pemetaan geologi telah dilakukan di daerah Seleman, Kecamatan Pengandonan, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Provinsi Sumatera Selatan, dengan cakupan area seluas 81 Km² pada skala 1:25.000. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi kondisi geologi lokal melalui analisis geomorfologi, satratigrafi, dan struktur geologi berdasarkan hasil observasi lapangan, analisis petrografi, paleontologi, serta studi laboratorium dan studio. Hasil analisis geomorfologi menunjukan bahwa wilayah penelitian terbagi atas lima satuan bentuk lahan utama, yaitu Perbukitan Rendah Denudasional (PRD), Dataran Rendah Denudasional (DRD), <em>Point Bar</em> (PB), <em>Channel Bar</em> (CB), dan <em>Channel Irregular Meander</em> (CIM). Secara startigrafi, daerah penelitian tersusun atas lima formasi utama, yaitu Formasi Gumai (Tmg, Miosen Awal-Miosen Tengah) yang didominasi batupasir, Formasi Air Benakat (Tma, Miosen Tengah-Miosen Akhir) yang tersusun oleh batulempung, Formasi Muara Enim (Tmpm, Miosen Akhir-Pliosen) dengan litologi batupasir tuffan, Formasi Kasai (Qtk, Pliosen-Plistosen) batpasir, serta Formasi Alluvium (Qa, Holosen) yang tersusun oleh endapan bongkah. Struktur geologi utama yang berkembang adalah sesar turun berarah Barat Laut-Tenggara (NW-SE), dikenal sebagai Sesar Seleman, yang terbentuk pada Miosen hingga Pliosen. Berdasarkan rekonstruksi sejarah geologi, pengendapan dimulai pada Miosen Awal dengan Formasi Gumai, diikuti oleh Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim, Formasi Kasai, dan diakhiri dengan pengendapan Formasi Alluvium serta aktivitas tektonik dan proses geomorfik permukaan pada kala kuarter.</p>2025-12-24T20:58:01+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3174ANALISIS KINERJA STRUKTUR GEDUNG BERATURAN DAN TIDAK BERATURAN MENGGUNAKAN BASE ISOLATOR HIGH DAMPING RUBBER BEARING2025-12-25T09:52:42+07:00Mohammad Rifqimohammadrifqi970@gmail.comAnthony Costaanthonycosta@ft.unsri.ac.idRosidawanirosidawani@unsri.ac.idDendy Adantadendyadanta@ymail.com<p>Land scarcity in Indonesia has led to the construction of irregular building structures that are vulnerable to earthquakes. The purpose of this research is to analyze and compare the performance of regular and irregular building structures with the criterion of area 720 m² as high as 10 floors against seismic loads. The analysis process is also carried out on structures equipped with and without base isolators in the form of High Damping Rubber Bearings (HDRB). The analysis procedure was carried out using the Response Spectrum Analysis (RSA) method with the assistance of ETABS software, following SNI 1726:2019, SNI 1727:2020, and SNI 2847:2019 standards, as well as the Bridgestone base isolator specifications from 2022. The results showed that in the presence of HDRB base isolator components, there was an increase in structural performance from buildings without base isolators to buildings with base isolators in terms of structural period by 85.3-94.5%, base shear force by 31.7-34.4%, and deviation between floors by 73.93-75.53% in regular building types. Meanwhile, the irregular building experienced an increase in performance of 78.3-93.5% in structural period, 24.7-34.6% in base shear force, and 70.24-73.6% in deviation between floors. In addition, the value of building performance is demonstrated by fulfilling the deflection limit requirements for both regular and irregular structural elements. Based on this, the presence of HDRB components proved to be effective in enhancing the seismic performance of both regular and irregular buildings, although its effectiveness was slightly reduced in irregular structures.</p>2025-12-24T21:02:18+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3020KAJIAN PENYEDIAAN SARANA PRASARANA PADA PERUMAHAN MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENCAH (MBR) DI PALEMBANG2025-12-25T09:52:42+07:00Tutur Lussetyowatituturlusetyowati@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK:</strong> Penyediaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Kota Palembang telah banyak dilakukan dengan peningkatan kuantitas yang signifikan. Namun, permasalahan yang muncul saat ini adalah kualitas sarana dan prasarana perumahan MBR yang masih belum memadai dan perlu ditingkatkan. Penyediaan sarana dan prasarana yang tidak memadai dapat berdampak negatif pada kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan penghuni perumahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam penyediaan sarana dan prasarana, serta rekomendasi untuk meningkatkan kualitas dan ketersediaan sarana prasarana pada perumahan bagi MBR. Lokasi penelitian adalah di perumahan bagi MBR di dua kecamatan yaitu Kecamatan Alang-Alang lebar dan Kecamatan Gandus. Metode penelitian menggunakan metode penelitian campuran dengan strategi penelitian campuran konkuren yang terdiri dari metode penelitian studi kasus dan metode penelitian survei. Hasil dari penelitian menunjukkan Penyediaan prasarana standar minimal untuk perumahan seperti jalan, air bersih, drainase, persampahan, listrik dan telekomunikasi sudah terpenuhi, yang belum terpenuhi adalah prasarana pengolahan limbah dan pemadam kebakaran. Untuk penyediaan sarana, sebagian besar sudah terpenuhi, hanya saja terdapat sarana pada skala pelayanan di lingkungan permukiman yang belum terpenuhi, yaitu untuk PAUD dan sekolah TK, taman lingkungan, taman bermain dan ruang terbuka hijau.</p> <p> </p> <p>Kata Kunci: perumahan MBR, sarana, prasarana</p> <p><strong><em>ABSTRACT</em></strong><em>: The provision of housing for low-income people (MBR) in Palembang City has expanded significantly in quantity. However, a pressing issue is the inadequate quality of facilities and infrastructure for MBR housing, which urgently needs improvement. The lack of proper facilities and infrastructure can have a negative impact on the health, safety, and comfort of residents. The purpose of this study is to identify and to analyze the problems in providing these facilities and infrastructure, and to offer recommendations for improving their quality and availability in MBR housing. The research was conducted in MBR housing areas in two sub-districts: Alang-Alang Lebar and Gandus<strong>.</strong> This study used a mixed-methods approach with a concurrent mixed research strategy, that combined case study and survey research methods. The results show that the minimum standard infrastructure, such as roads, clean water, drainage, electricity, and telecommunications, has been fulfilled. However, infrastructure for waste processing and fire extinguishing remains unmet. While most facilities have been provided, some service-level facilities are still lacking, including early childhood education (PAUD) and kindergartens, neighborhood parks, playgrounds, and green open spaces.</em></p> <p><em>Keywords: low-income housing, facilities, infrastructure</em></p>2025-12-24T21:03:06+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3181a PENYELIDIKAN TOPOGRAFI UNTUK PROYEK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA (PLTS) DAN ARCHIPELAGO HYBRID SOLUTION (AHS)-PHOTOVOLTAIC DI HALMAHERA2025-12-25T09:52:43+07:00roy reeverdyroyrvds@unsri.ac.id<p>Penelitian ini membahas hasil kegiatan survei topografi yang dilakukan untuk mendukung perencanaan proyek <em>Archipelago Hybrid Solution (AHS) PV + Battery Power Plant</em> di Halmahera. Tujuan utama kegiatan ini adalah menghasilkan peta topografi berskala 1:1.000 sebagai acuan untuk desain dan konstruksi sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan sistem baterai hibrida di lokasi proyek. Survei dilakukan melalui kombinasi metode pengukuran terestrial, <em>Global Positioning System (GPS) Geodetik</em>, serta <em>Aerial Photogrammetry</em> menggunakan wahana nirawak (<em>drone</em>). Data yang dikumpulkan mencakup informasi elevasi, kontur, kondisi vegetasi, infrastruktur permukaan, serta jaringan utilitas bawah tanah. Hasil pengolahan menunjukkan akurasi pengukuran yang tinggi dengan koneksi terhadap sistem geodesi nasional Indonesia. Analisis <em>cut and fill</em> dilakukan berdasarkan kondisi topografi eksisting dengan acuan pada <em>Highest Astronomical Tides (HAT)</em>, yang menghasilkan rekomendasi kemiringan optimal area PV sebesar 2,53° ke arah selatan. Temuan ini menjadi dasar bagi perencanaan desain PLTS dan infrastruktur pendukung yang lebih efisien dan presisi.</p>2025-12-24T21:04:59+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3184Pengenalan Fosil Formasi Mengkarang kepada Siswa SMPN 46 Merangin sebagail Pembekalan Eduwisata2025-12-25T09:52:43+07:00Febiyora Chandra Kiranafebiyorachandrakirana@unja.ac.idRisnaliyah Nuriil Tadersirisnaliyahnuriil@unja.ac.idAnggi Deliana Siregaranggidelianas@unja.ac.idD.M. Magdalena Ritongamagdalenaritonga@unja.ac.idHari Wiki Utamah.wikiutama@unja.ac.idAndrea HasbullahAndreahasbullah@unja.ac.id<p>Kegiatan pengenalan fosil Formasi Mengkarang kepada siswa SMPN 46 Merangin dilaksanakan sebagai upaya peningkatan pengetahuan mengenai fosil serta penguatan potensi eduwisata berbasis geologi di Desa Air Batu yang merupakan Kawasan Inti UNESCO Global Geopark Merangin (UGGpM) Kabupaten Merangin. Formasi Mengkarang merupakan satuan batuan berumur Paleozoikum yang tersingkap luas di wilayah Merangin dan mengandung berbagai jenis fosil laut dangkal dan fosil flora yang bernilai ilmiah tinggi. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan karakteristik fosil Formasi Mengkarang, memahami proses terbentuknya, serta menumbuhkan kesadaran pelestarian warisan geologi sejak usia dini. Metode yang digunakan meliputi penyampaian materi melalui ceramah interaktif, demonstrasi identifikasi fosil, dan pengamatan langsung terhadap sampel representatif di lingkungan sekitar sekolah dan desa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan terhadap literasi geologi tentang fosil dan konsep geologi, disertai meningkatnya minat siswa terhadap kegiatan pembelajaran berbasis alam dan lingkungan. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan pengenalan fosil dapat berperan sebagai media edukatif yang efektif sekaligus mendukung pengembangan potensi eduwisata di kawasan Geopark Merangin sebagai bagian dari pelestarian warisan geologi.</p>2025-12-24T21:07:32+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3025INOVASI MATERIAL BERKELANJUTAN: PENGARUH SUBSTITUSI ABU SEKAM PADI SEBAGAI FILLER TERHADAP VARIASI KADAR ASPAL PADA CAMPURAN ASPAL BETON LAPIS AUS (AC-WC)2025-12-25T09:52:43+07:00Selen Beliaramadhaniuiba.ac.id@gmail.comRamadhani Ramadhaniramadhaniuiba.ac.id@gmail.comHendrik Jimmyantohendrikjimmyanto@univ-tridinanti.ac.idKiagus Muhammad Aminuddinkmaminuddin@ft.unsri.ac.id<p>As traffic volume increases, the quality of road infrastructure must be improved through innovations in filler materials within asphalt mixtures to achieve better performance and sustainability. This study aims to analyze the influence of rice husk ash (RHA) as a substitute for conventional filler on Marshall parameters in asphalt concrete wearing course (AC-WC) mixtures. Activated RHA, produced through high-temperature combustion, was used as filler at proportions of 50%, 75%, and 100% as a replacement for traditional filler. Aggregate characteristic tests, physical properties of the filler, and Marshall parameters all indicate that the materials meet applicable standards. The analysis results show that increasing the proportion of RHA affects Marshall parameter values, including a decrease in VIM and an increase in asphalt content, which causes a shift in the range of the Optimum Asphalt Content (OAC). Overall, the use of RHA extends the OAC range and can improve mixture flexibility, although adjustments to asphalt content are necessary to meet stability and strength requirements.</p>2025-12-24T21:09:17+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3051Geomorfologi Daerah Banjaranyar Dan Sekitarnya Kabupaten Ciamis Jawa Barat2025-12-25T09:52:44+07:00Felix Mateus Exaudi Gultomrstiff797@gmail.comYogie Zulkurnia Rochmanayogie.zrochmana@ft.unsri.ac.id<p>Penelitian ini berfokus pada analisis geomorfologi di Daerah Banjaranyar dan sekitarnya, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Pada daerah penelitian menunjukkan keragaman bentuk lahan yang dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik, tektonik, dan proses denudasional yang intensif. Oleh karena itu diperlukan identifikasi dan klasifikasi bentuk lahan, serta penentuan proses geomorfologi yang membentuk bentang alam tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi satuan geomorfik yang ada dan menjelaskan proses-proses geomorfologi yang bekerja dalam pembentukan bentang alam di daerah penelitian. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan langsung (survei lapangan) untuk observasi dan pengambilan data posisi (GPS). Pendekatan ini didukung oleh metode pendekatan tidak langsung yang melibatkan studi literatur, interpretasi citra satelit resolusi tinggi dan peta topografi, serta analisis data spasial (SIG) untuk delineasi batas-batas satuan geomorfologi dan penyusunan peta. Proses geomorfologi yang dominan meliputi erosi permukaan (denudasional) pada lereng terjal dan pelapukan yang cukup intensif. Daerah penelitian didominasi oleh bentuk lahan Perbukitan Struktural dicirikan oleh kemiringan lereng yang curam dengan batuan penyusun yang telah terdeformasi, menjadikannya zona yang sangat rentan terhadap gerakan tanah (longsor), terutama saat curah hujan tinggi. Satuan Dataran Aluvial terbentuk akibat proses sedimentasi sungai yang lambat, memiliki potensi kesuburan tinggi untuk pertanian. Geomorfologi Daerah Banjaranyar dan sekitarnya, Kabupaten Ciamis dicirikan oleh interaksi kompleks antara faktor litologi, struktur geologi, dan proses geomorfologi.</p>2025-12-25T02:12:19+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3052Identifikasi Struktur Bawah Permukaan Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas di Desa Bentayan, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan2025-12-25T09:52:44+07:00Lusitania Lusitanialusitania@ft.unsri.ac.idMuhammad Agni Gustamaagnigustama@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Penelitian geolistrik tahanan jenis (resistivitas) dilaksanakan di Desa Bentayan, Kecamatan Tungkal Ilir, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan serta menilai potensi akuifer dangkal. Akuisisi data dilakukan pada enam lintasan (1a, 1b, 1c, 2a, 2b, 2c) sepanjang ±128 m menggunakan konfigurasi Wenner–Schlumberger. Data tersebut diolah menggunakan perangkat lunak RES2DINV untuk memperoleh penampang resistivitas dua dimensi. Korelasi pengukuran geolistrik dengan kondisi geologi berada pada formasi muaraenim dan endapan rawa. Hasil interpretasi menunjukkan daerah penelitian didominasi oleh material jenuh air berupa lapisan lempung dan lempung berpasir dengan resistivitas rendah hingga sedang (±5–25 Ωm). Pada kedalaman 15–35 m terdapat selang-seling batubara muda dan lanau keras dengan resistivitas 60–200 Ωm yang berperan sebagai lapisan kompak (aquitard). Berdasarkan analisis terdapat indikasi keberadaan bidang gelincir dan tekanan air pori lateral yang berpotensi memengaruhi kestabilan pondasi akibat adanya dua lintasan (1a dan 2a) sejajar dengan lokasi tiang dermaga.</p> <p>Kata Kunci: geolistrik, tahanan jenis, resistivitas 2D, akuifer dangkal, Musi Banyuasin</p>2025-12-25T02:14:42+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3053PREDIKSI POROSITAS DENGAN METODA FUZZY LOGIC PADA LOG SUMUR FORMASI TALANG AKAR NON MARINE, NORTH WEST JAVA BASIN2025-12-25T09:52:45+07:00Meutia Fitri Hasanmeutiafitrihasan@gmail.comBochoribochori@ft.unsri.ac.id<p><strong>ABSTRAK: </strong>Porositas merupakan salah satu parameter fisik batuan reservoir yang digunakan untuk simulasi reservoir migas, baik itu secara statis maupun dinamis. Penelitian ini akan memprediksi nilai porositas well log dengan menggunakan metoda <em>Fuzzy Logic</em>. Data yang digunakan pada penelitian adalah data <em>Routine Core Analysis</em> (RCAL) dan well log dari Lapangan ’Mangga’ yang terletak di lepas pantai North West Java Basin, dan bagian dari Formasi Talang Akar Non Marine. Litologi daerah penelitian terdiri atas perselingan batupasir dan batulempung, yang merupakan bagian dari fasies <em>braided channel</em>. <em>Input</em> yang digunakan untuk proses <em>fuzzification</em> (training data) adalah data porositas RCAL, log Gamma Ray (GR), log Neutron (NPHI), log Density (RHOB) dan log Sonic (DT). Hasil prediksi log porositas <em>fuzzy logic</em> lalu diverifikasi dengan data porositas c<em>ore</em> dari Sumur Mangga-2 dan Mangga-5. Perbandingan metoda <em>fuzzy logic</em> untuk prediksi porositas terhadap porositas <em>core </em>menunjukkan angka koefisien korelasi ()yang cukup baik pada Sumur Mangga-2 dan Mangga-5 yaitu 0,74 dan 0,79. Hal ini menunjukkan bahwa metoda <em>Fuzzy Logic</em> dapat digunakan untuk prediksi porositas dengan catatan terdapat cukup data RCAL untuk training data.</p> <p>Kata Kunci: <em>fuzzy logic</em>, porositas, talang akar non marine, <em>well log</em></p> <p><em><strong>ABSTRACT: </strong>Porosity is one of the important physical properties for static and dynamic reservoir simulation. In this study, Fuzzy logic is used as method for predicting porosity from well log. Routine Core Analysis (RCAL) samples and well log came from ‘Mangga’ Field, located at offshore ONWJ Basin, and member of Talang Akar Non Marine Formation. The lithology consists of sandstone-shale interbedding, which is part of braided channel facies. Input parameter for fuzzification process (training data) are RCAL porosity data, Gamma Ray (GR) log, Neutron (NPHI) log, Density (RHOB) log and Sonic (DT) log. Result of porosity prediction validate by porosity core data from RCAL data of well Mangga-2 and Mangga-5. The result shows coefficient correlation of 0,74 and 0,79 from Mangga-2 and Mangga-5 well. The result will be better with more RCAL samples for training data.</em></p> <p><em>Keywords: fuzzy logic, porosity, non marine talang akar, well log</em></p>2025-12-25T02:19:06+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3082Efektivitas Teknologi Membran Ultrafiltrasi dan Kombinasi Adsorben Zeolit-Batu Karang Jahe terhadap Penurunan pH, TDS, EC dan Suhu pada Air Sumur menjadi Air Bersih2025-12-25T12:16:34+07:00Susi Susantisusisusanti@ft.unsri.ac.id<p>ABSTRAK: Air sumur merupakan salah satu sumber utama air bagi masyarakat, terutama di daerah pedesaan. Namun, kualitas air sumur sering kali tidak memenuhi standar air bersih karena mengandung kontaminan seperti logam berat, zat organik, serta nilai pH, TDS, dan EC yang tidak sesuai. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengolahan air yang efektif, efisien, dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas integrasi teknologi membran ultrafiltrasi dengan kombinasi adsorben zeolit dan batu karang jahe dalam menurunkan nilai pH, TDS, dan EC pada air sumur. Proses penyaringan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan penggunaan adsorben zeolit dan batu karang jahe yang berfungsi mengadsorpsi ion logam dan senyawa organik melalui mekanisme pertukaran ion serta gaya Van der Waals. Selanjutnya, air hasil pra-penyaringan dialirkan melalui membran ultrafiltrasi untuk memisahkan partikel tersuspensi dan mikroorganisme berdasarkan ukuran pori membran. Integrasi teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penurunan kontaminan secara signifikan. Keterbaharuan penelitian ini terletak pada penggunaan kombinasi variasi massa adsorben, yaitu 100 g zeolit, 100 g batu karang jahe, dan campuran 50:50 g, dipadukan dengan membran ultrafiltrasi untuk meningkatkan efisiensi penghilangan polutan pada air sumur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi adsorben zeolit dan batu karang jahe dengan teknologi ultrafiltrasi mampu meningkatkan kualitas air sumur sehingga dapat memenuhi standar baku mutu air bersih. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengolahan air serta mendukung pencapaian tujuan pembangunan global SDGs ke-6 tentang penyediaan air bersih dan sanitasi layak.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong>air sumur, zeolit, batu karang jahe, membran ultrafiltrasi, pemurnian air, kualitas air, TDS, EC, pH.</p>2025-12-25T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3132PERENCANAAN TEKNIS SEQUENCE DAN SCHEDULING PENAMBANGAN BATUBARA PER KUARTAL TAHUN 2025 DENGAN CONSTRAINT IN PIT DUMP UNTUK MEMENUHI TARGET PRODUKSI DI PT. DUTA BARA UTAMA2025-12-25T09:52:45+07:00Rian Zikririan.zikri1110@gmail.com<p>PT. Duta Bara Utama targets coal production of 2,250,000 tons with an SR < 3.5. Actual production in January <br>2025 was 112,480.03 tons coal and 230,486.10 BCM overburden. The outo pit dump disposal could not accommodate the <br>planned volume of overburden; therefore, dumping was carried out in the pit dump. Equipment requirements were planned <br>using Microsoft Excel 2021, mining scheduling was done using Spry software, while pit and disposal designs were created <br>using Minescape 5.7 software. In Q1, the planned production was 374,881.49 tons of coal and 1,219,000.96 BCM of <br>overburden with an SR of 3.25. In Q2, the planned production was 544,345.39 tons of coal and 2,015,154.65 BCM of <br>overburden with an SR of 3.70. In Q3, the planned production was 641,818.95 tons of coal and 2,275,999.62 BCM of <br>overburden with an SR of 3.70. The Q4 production plan is 707,918.65 tons of coal and 1,978,860.85 BCM of overburden with <br>an SR of 2.80. The total production plan for 2025 is 2,263,888.79 tons of coal and 7,589,016.09 BCM of overburden with an <br>SR of 3.34, which has met the production target. Then, mining scheduling is created using a trial and error method in the <br>Spry software until a scenario is found that aligns with the production targets and coal exposed balance. The design plans <br>for the pit and disposal in Q1, Q2, Q3, and Q4 are designed based on the planned coal tonnage and overburden volume.</p>2025-12-25T02:25:36+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3153PENGOLAHAN BIJI ALPUKAT (Persea americana) MENJADI PRODUK OLAHAN BERNILAI TAMBAH DI PONDOK PESANTREN NUURUL HIKMAH SUNGAI PINANG2025-12-25T09:52:46+07:00Enggal Nurismanenggalnurisman@ft.unsri.ac.id<p>ABSTRAK: Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan santri, guru pendamping serta masyarakat di lingkungan Pondok Pesantren Nuurul Hikmah, Sungai Pinang, Banyuasin, dalam memanfaatkan limbah biji alpukat menjadi produk olahan pangan bernilai ekonomi, yaitu kopi dan teh biji alpukat. Metode kegiatan meliputi sosialisasi, demonstrasi, dan praktik langsung kepada 60 peserta. Hasil uji organoleptik dalam skala penilaian 1-5 menunjukkan bahwa kopi biji alpukat memperoleh nilai rata-rata aroma (3,8), rasa (3,5), warna (3,1), tekstur (3,2), dan penerimaan umum (4,2), sedangkan teh biji alpukat memperoleh nilai aroma (3,0), rasa (2,8), warna (3,0), tekstur (2,8), dan penerimaan umum (2,9). Respon positif peserta menunjukkan tingginya antusiasme terhadap inovasi pangan berkelanjutan berbasis bahan lokal. Kegiatan ini tidak hanya memberikan keterampilan praktis dalam pemanfaatan limbah organik, tetapi juga menumbuhkan kesadaran santri akan pentingnya inovasi pangan berkelanjutan berbasis konsep Go Green dan zero waste. Langkah berikutnya perlu dilakukan pengujian lanjut terhadap mutu fisikokimia (kadar air, pH, dan kestabilan warna) serta uji preferensi konsumen yang lebih luas sebagai dasar pengembangan produk menuju skala usaha mikro berbasis pesantren.</p> <p>Kata Kunci: biji alpukat, kopi herbal, teh herbal, pengabdian masyarakat, inovasi pangan berkelanjutan.</p> <p> </p>2025-12-25T02:28:13+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3140SISTEM MONITORING KEBAKARAN MENGGUNAKAN SENSOR FLAME DETECTOR DENGAN TEKNOLOGI ZIGBEE IEEE 802.15.42025-12-25T09:52:46+07:00aginda bagindabaginda29@gmail.com<p>Kebakaran adalah salah satu bencana yang sering terjadi yang menyebabkan kerugian pada material dan korban jiwa. Kebakaran ini disebabkan oleh karena tidak adanya alat pendeteksi kebakaran pada suatu tempat tinggal. Oleh karena itu diperlukan suati Sistem monitoring kebakaran. Salah satunya menggunakan sensor <em>flame detector </em>yang tujuan adalah untuk menghindari kebakaran yang menyebabkan kerugian secara materil . Penelitian ini ini menggunakan teknologi <em>Wireless Sensor Network </em>(WSN) dimana perangkat ini menggunakan protocol ZigBee untuk komunikasi data secara nirkabel. Sistem monitoring ini dipasang <em>flame detector sensor </em>dan <em>wireless camera </em>sebagai pemantau. Proses pertukaran data dilakukan oleh XBee series 2 data akan disimpan pada komputer sehingga dapat terlihat apakah terjadi kebakaran dalamn satu ruangan . Keuntungan ZigBee adalah lisensi yang sangat mudah dan membutuhkan daya yang sangat rendah. Teknilogi ini dapat digunakan dalam sistem monitoring</p>2025-12-25T02:30:48+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/2958Implementasi Kendali Cerdas Berbasis Jaringan Syaraf Tiruan Untuk Navigasi Mobile Robot Di Lingkungan Indoor2025-12-25T09:52:46+07:00Rendyansyah Rendyansyahrdyrsyh@gmail.comIrmawanirmawan@unsri.ac.idCarolinecaroline@unsri.ac.idOriz Djati Laksonooriz@gmail.comCarolin Inggrit Adityacarolin@gmail.com<p>Penelitian ini membahas implementasi Jaringan Syaraf Tiruan (JST) sebagai sistem kendali cerdas pada mobile robot berpenggerak diferensial untuk mendukung navigasi otonom di lingkungan indoor yang kompleks dan dinamis. JST digunakan untuk mengolah data dari lima sensor jarak yang dikonversi melalui proses kuantisasi, kemudian dilatih menggunakan 53 dataset dengan parameter learning rate 0,2, epoch 30.000, dan target Mean Squared Error (MSE) 0,01. Arsitektur jaringan terdiri atas 5 neuron input, 8 neuron pada lapisan tersembunyi (hidden layer), dan 3 neuron output yang merepresentasikan aksi gerak robot, yaitu maju, belok kiri, dan belok kanan. Hasil pelatihan menunjukkan konvergensi yang stabil, dan model bobot hasil training diimplementasikan pada mikrokontroler Arduino untuk pengujian nyata. Eksperimen dilakukan dalam arena berukuran 500 cm × 500 cm dengan berbagai konfigurasi rintangan. Hasil pengujian menunjukkan tingkat keberhasilan sistem mencapai 96%, dengan kegagalan minor akibat keterbatasan deteksi sensor. Penelitian ini membuktikan bahwa pendekatan JST efektif dalam meningkatkan kemampuan adaptasi, akurasi, dan kemandirian navigasi mobile robot di lingkungan indoor.</p>2025-12-25T03:12:21+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3121INOVASI TEBU MENJADI BAHAN BAKAR ENERGI BIOETANOL2025-12-25T09:52:47+07:00Yolanda SapitriyolandaSAPITRI01@gmail.comTaufik Ariefarieftaufik901@gmail.comMuhammad Febrian Haidarifebrianhaidari17@gmail.comM. Farhan CakrawangsaFarhanckr3107@gmail.clmMuhammad Kaezha Aurellio Lafflykaezhaurellioo@gmail.com<p> </p> <p><strong>ABSTRAK:</strong> Indonesia berkomitmen pada penurunan emisi gas rumah kaca dan menargetkan bauran energi terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025. Salah satu strategi konkret adalah substitusi bahan bakar fosil cair dengan bioetanol (C<sub>2</sub>H<sub>5</sub>OH) dari tebu. Pemanfaatan tebu ini strategis karena biomassa adalah satu-satunya EBT yang dapat dikonversi menjadi bahan bakar cair bermutu tinggi, dan produksi bioetanol dari tebu menyumbang sekitar 40% dari total global. Metode konversi nira tebu menjadi bioetanol di Indonesia melibatkan dua tahap utama: hidrolisis sukrosa menjadi glukosa, dan fermentasi glukosa menggunakan ragi <em>Saccharomyces cerevisiae</em>. Proses fermentasi menghasilkan etanol dan CO<sub>2</sub>. Bioetanol yang dihasilkan perlu dimurnikan hingga kemurnian minimal 99% (<em>fuel-grade</em>) agar kompatibel sebagai campuran bahan bakar, seperti E10. Pengembangan bioetanol berbasis tebu harus menjaga keseimbangan antara ketahanan energi dan ketahanan pangan (gula). Meskipun berpotensi besar, Indonesia masih defisit gula, sehingga pengelolaan lahan berkelanjutan dan pemanfaatan optimal produk sampingan (molase) menjadi kunci. Dukungan regulasi, terutama Peraturan Presiden No. 40 Tahun 2023, telah menetapkan <em>road map</em> ambisius, termasuk penambahan 700.000 hektar lahan tebu dan peningkatan produksi bioetanol minimum 1.200.000 kL. Inovasi ini menciptakan pasar ganda, menstabilkan pendapatan petani tebu, memperkuat ekonomi pedesaan, dan mendukung transisi energi bersih nasional.</p> <p> </p> <p>Kata Kunci: Bioetanol, Tebu, Fermentasi, Ketahanan Pangan, Molase.</p> <p><strong><em>ABSTRACT: </em></strong><em>Indonesia is committedto reducing greenhouse gas emissions and targeting a renewable energy mix (EBT) of 23% by 2025. One concrete strategy is thesubstitution of liquid fossil fuels with bioethanol (C2H5OH) from sugarcane. The use of sugarcane is strategic because biomass is the only EBT that can be converted into high-quality liquid fuel, and the production of bioethanol from sugarcane accounts for about 40% of the global total. The method of converting sugarcane juice into bioethanol in Indonesia involves two main stages: hydrolysis of sucrose into glucose, and fermentation of glucose using Saccharomyces cerevisiae yeast. The fermentation process produces ethanol and CO2. The bioethanol produced needs to be purified to a minimum purity of 99% (fuel-grade) to be compatible as a fuel blend, such as E10. The development of sugarcane-based bioethanol must maintain a balance between energy security and food security (sugar). Despite its great potential, Indonesia still has a sugar deficit, so sustainable land management and optimal utilization of by-products (molasses) are key. Regulatory support, particularly Presidential Regulation No. 40 of 2023, has established an ambitious road map, including the addition of 700,000 hectares of sugarcane land and an increase in bioethanol production of at least 1,200,000 kL. This innovation creates a dual market, stabilizes the income of sugarcane farmers, strengthens the rural economy, and supports the national clean energy transition.</em></p> <p><em>Keywords: Bioethanol, Sugarcane, Fermentation, Food Security, Molasses.</em></p>2025-12-25T06:19:11+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3084Geologi Daerah Kecamatan Langkaplancar dan Sekitarnya, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat2025-12-25T11:12:16+07:00Rizky Andra Prasetyarizkyandrap12@gmail.comBudhi Setiawanbudhi.setiawan@unsri.ac.id<p>Daerah penelitian terletak di Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangdaran, Jawa Barat. Secara fisiografi regional, daerah penelitian termasuk kedalam Zona Pegunungan Selatan Jawa Barat yang terbentuk akibat proses pengangkatan pulau Jawa sebagai produk subduksi antara lempeng benua Eurasia dan Lempeng samudera Indo-Australia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evolusi geologi dan lingkungan pengendapan berdasarkan hasil pemetaan geologi skala 1 : 25.000 dengan luasan daerah penelitian 81 km<sup>2</sup>. Berdasarkan hasil pemetaan geologi maupun analisis laboratorium dan studio menunjukkan empat satuan batuan utama, yaitu Formasi Jampang (Oligosen Akhir – Miosen Awal), Anggota Tuff Napalan Formasi Pamutuan (Miosen Tengah), Formasi Kalipucang (Miosen Tengah), dan Formasi Halang (Miosen Akhir). Berdasarkan data litologi, struktur sedimen, dan mikrofosil, Formasi Jampang (Tomj) diinterpretasikan sebagai hasil endapan turbidit vulkanogenik laut dalam yang berasosiasi dengan sistem kipas bawah laut pada kala, Anggota Tuff Napalan Formasi Pamutuan (Tmpt) sebagai endapan vulkanogenik turbidit pada kala Miosen Tengah, Formasi Kalipucang (Tmkl) sebagai endapan terumbu pada kala Miosen Tengah, dan Formasi Halang (Tmph) sebagai endapan turbidit laut dalam pada kala Miosen Akhir. Struktur geologi daerah penelitian merupakan struktur geologi orde I dan orde II sebagai hasil gaya kompresi yang membentuk struktur lipatan berupa Sinklin Jadikarya, Antiklin Kalijaya, Sinklin Kalijaya yang terbentuk pada orde I dengan arah tegasan utama utara timur laut – selatan barat daya (NNE – SSW). Struktur sesar orde I berupa Sesar Jadikarya, Sesar Cigayam, Sesar Banjaranyar yang memiliki arah tegasan utama timur laut – barat daya (NE – SW). Berikutnya, struktur geologi yang terbentuk pada orde II yaitu Sesar Cibabakan dengan tegasan utama berorientasi timur timur laut - barat barat daya (ENE - WSW) dan Sesar Cikupa dengan arah tegasan utama barat barat laut – timur tenggara (WNW – ESE).</p>2025-12-25T00:00:00+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)https://ejournal.ft-unsri.com/index.php/avoer/article/view/3207PENGARUH PROSES DELIGNIFIKASI DAN BLEACHING SEBEGAI PROSES PRETERATMENT UNTUK BAHAN BAKU BIOPLASTIK BERBASIS PATI-SELULOSA DARI LIMBAH KULIT DURIAN2025-12-28T08:56:34+07:00Randi Akbarakbarrandi71@gmail.comathaya salsabilaathayasalsabila135@gmail.com<p>Limbah kulit durian berpotensi sebagai bahan baku bioplastik karena kandungan serat yang tinggi. Selain itu<br>limbah kulit durian dapat dijadikan tepung yang kaya akan kandungan pati. Namun serat dan pati dalam limbah kulit durian<br>masih bercampur dengan lignin. Lignin merupakan penghalang utama bagi ekstraksi serat selulosa yang efisien untuk proses<br>selanjutnya baik untuk pulp dan kertas, biofuel, dan bioplastik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pengaruh<br>proses delignifikasi dan bleaching dalam mengurangi kandungan lignin pada limbah kulit durian sebegai proses preteratment<br>untuk bahan baku bioplastik berbasis pati-selulosa. Metode pretreatmen islolasi selulsa dan pati dilakukan melalui 2 tahap.<br>Tahap pertama delignifikasi dengan larutan NaOH 6%, dan tahap ledua bleaching dengan larutan NaOCl 5,25%. Tepung<br>kulit durian kemudian dianalisa kandungan selulosa dan pati, serta dikarakterisasi fisik untuk tepung dan sampel bioplastik<br>yang dihasilkan. Hasilnya menunjukkan terjadi peningkatan kandungan selulosa 1% menjadi 6,55% setelah delignifikasi,<br>kemudian menjadi 18,41% setelag dibleaching. Namun terjadi penurunan kadar pati pada tepung kulit durian setelah proses<br>delignifikasi dan bleaching, dari 68,67% menjadi 26,19%. Tepung dan sampel bioplastik yang dihasilkan setelah proses<br>delignifikasi dan bleaching berwarna bening dan elastis layaknya bioplastik pada umumnya</p>2025-12-28T08:55:08+07:00Copyright (c) 2025 Applicable Innovation of Engineering and Science Research (AVoER)